Rabu, 23 November 2016

PENYAKIT BOTULISME

BOTULISME (TETRIS FARIKAH-14111101107)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Botulisme sangat jarang terjadi namun penyakit ini tergolong gawat dan sangat darurat, terbukti dengan cukup tingginya angka kematian yang disebabkan oleh penyakit ini, sekitar 50-70%. Botulisme adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh peracunan makanan oleh bakteri. Botulisme saluran pencernaan diusulkan sebagai identitas penyakit baru dari apa yang sebelumnya disebut Botulisme bayi. Nama baru secara resmi diterima pada pertengahan tahun 1999, ini sebagai pengganti istilah botulisme bayi. Foodborne botulism adalah keracunan berat yang diakibatkan karena menelan racun yang terbentuk di dalam makanan yang terkontaminasi.
            Botulisme adalah penyakit langka tapi sangat serius dan merupakan penyakit paralisis gawat yang disebabkan oleh racun (toksin) yang menyerang saraf yang diproduksi bakteri Clostridium Botulinum. Selain bakteri Clostridium Botulinum, ada pun  bakteri lain yang menjadi penyebab terjadinya racun yang mengakibatkan botulisme adalah Clostridium baratii dan Clostridium butyricum. Organisme secara umum terdapat dalam tanah dan dapat bertahan hidup dalam lingkungan ini dalam bentuk spora. Beberapa jenis bakteri ini dapat memproduksi racun kimia yang disebut dengan toksin botulinum yang dapat merusak fungsi otot di banyak daerah tubuh, menyebabkan kelumpuhan otot. Bakteri ini dapat meracuni kita melalui konsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Bakteri ini biasanya mengkontaminasi makanan melalui debu yang hinggap pada makanan dalam bentuk spora yang dapat pindah dan aktif dan menghasilkan racun berbahaya.
            Clostridium botulinum adalah bakteri anaerobik, gram positif, membentuk spora, dan relatif besar. Clostridium botulinum tersebar secara luas dalam tanah dan tanaman, isi usus dari hewan mamalia, burung dan ikan. Tiga jenis utama penyakit ini adalah bawaan makanan, luka dan bayi.

1.2  Tujuan  
1.    Mengetahui pengertian botulism
2.    Mengetahui cara penularan dari botulisme.
3.    Mengetahui tindakan pencegahan dari botulisme.
4.    Mengetahui bagaimana pengendalian botulisme.
5.    Memahami tindakan  pemberantasan botulism.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Botulism
Botulisme berasal dari kata botulisme yang berarti sosis. Penyakit ini diberi nama demikian karena selama bertahun-tahun sosis yang tidak dimasak dihubungkan dengan penyakit ini. Botulin, juga dikenal sebagai botox, yaitu toksin bakteri paling mematikan yang dapat terbentuk pada makanan kaleng yang tidak diproses dengan benar atau cukup dipanasi.
Botulisme adalah penyakit langka tapi sangat serius dan merupakan penyakit paralisis gawat yang disebabkan oleh racun (toksin) yang menyerang saraf yang diproduksi bakteri Clostridium Botulinum. Selain bakteri Clostridium Botulinum, ada pun  bakteri lain yang menjadi penyebab terjadinya racun yang mengakibatkan botulisme adalah Clostridium baratii dan Clostridium butyricum.
Clostridium botulinum adalah bakteri anaerobik, gram positif, membentuk spora, dan relatif besar. Clostridium botulinum berkembang biak melalui pembentukan spora dan produksi toksin. Toksin tersebut dapat dihancurkan oleh suhu yang tinggi, karena itu botulisme sangat jarang sekali dijumpai di lingkungan atau
masyarakat yang mempunyai kebiasaan memasak atau merebus sampai matang.
Ada 3 jenis utama botulisme
1.      Foodborne Botulisme
Disebabkan karena makanan yang mengandung toksin botulisme.
2.      Wound Botulisme
Disebabkan toksin dari luka yang terinfeksi oleh Clostridum Botulinum.
3.      Infant Botulisme
Disebabkan karena spora dari bakteri botulinum, yang kemudian berkembang dalam usus dan melepaskan toksin.

2.2  Penularan Botulism
Penularan Botulisme pada manusia terjadi karena orang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi spora botulinum, luka terinfeksi spora botulinum dan ketika bayi mengkonsumsi spora botulinum. 
Clostridium botulinum tersebar luas di seluruh dunia. Botulinus terdapat dalam bentuk bakteri dan spora di dalam tanah, sedimen dilaut, permukaan buah dan sayur, di usus mamalia dan ikan dan di insang dan vixcera dari kerang-kerangan, kepiting. Karena spora botulinum, terdapat didalam tanah dan sedimen di dasar laut. Spora ini dapat berakhir di usus dari binatang yang memakan rumput dan ikan, kemudian memasuki rantai makanan manusia.
Botulism pada bayi disebabkan tertelannya bakteri itu, dan bukan tertelannya racun. Terdapat tiga tipe keracunan menurut cara terjangkitnya. Hampir seluruh kejadian (90%) terjadi karena buruknya makanan kaleng yang diawetkan. Botulism akibat makanan (Foodborne botulism) biasanya disebabkan oleh daging yang tercemar (termasuk seafood) dan sayuran kaleng.
Botulism pada bayi (Infant botulism) merupakan bentuk botulism yang paling umum. Disebabkan oleh menghirup spora bersamaan dengan partikel debu yang mikroskopis. Botulism pada luka (wound botulism) merupakan bentuk botulism yang paling jarang. Dapat terjadi ketika bakteri meng-infeksi luka (seperti luka koyak atau retaknya susunan tulang) dan memproduksi racun in vivo. Spora tumbuh secara lokal (didalam luka) dan racun bersirkulasi melalui pembuluh darah untuk mencapai bagian lain dari tubuh. Jalan masuk spora pada luka dapat saja kecil dan terlihat tidak penting.
Pada makanan-makanan kalengan, bakteri ini sengaja dimasukkan dengan tujuan agar dapat membantu dalam mengawetkan makanan tersebut dengan keadaan yang dorman (tidak diaktifkan). Tetapi, apabila makanan  kaleng telah kadarluasa, maka didalam kaleng bakteri ini akan aktif sehingga sporanya akan berkembang dan bakteri ini akan menghasilkan racun yang berupa neurotoksin (racun yang dapat langsung menyerang saraf) yang akan menyerang jaringan syaraf, sehingga dapat mengakibatkan kematian bagi yang mengkonsumsinya.
Gejala neurologis dari botulisme yang ditularkan oleh makanan biasanya muncul dalam 12–36 jam, kadang-kadang beberapa hari, sesudah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi. Pada umumnya, semakin pendek masa inkubasi, semakin berat penyakitnya dan semakin tinggi CFR-nya. Masa inkubasi dari botulisme saluran pencernaan pada bayi tidak diketahui, karena kapan saat bayi menelan makanan yang terkontaminasi tidak diketahui.  
Masa penularan, walaupun racun C. botulisnum dan bakterinya dikeluarkan bersama tinja pada kadar yang tinggi (ca. 106 organisme/g) oleh pasien botulisme saluran pencernaan selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan sesudah onset penyakit, namun tidak ada bukti terjadi penularan dari orang ke orang. Pasien Botulisme yang ditularkan melalui makanan biasanya mengeluarkan racun dan bakteri dalam jangka waktu yang lebih pendek.
Kekebalan dan kerentanan semua orang rentan. Hampir semua pasien dengan botulisme pencernaan yang di rawat dirumah sakit berusia antara 2 minggu dan 1 tahun; 94 % berusia kurang dari 6 bulan, dan median umur penderita adalah 13 minggu. Kasus botulisme saluran pencernaan terjadi di semua ras dan kelompok etnik. Orang dewasa yang mempunyai gangguan buang air besar yang mengarah pada gangguan flora usus (atau flora usus yang secara tidak sengaja terganggu karena pengobatan antibiotik untuk tujuan lain) bisa rentan mengidap botulisme saluran pencernaan. 

-       RESERVOIR
Reservoir Spora ini tersebar di atas tanah di seluruh dunia, kadang-kadang ditemukan pada produk pertanian termasuk madu. Spora juga ditemukan pada lapisan sedimen di dasar laut dan di saluran pencernaan binatang, termasuk ikan.  
-        AGEN
Agen penyebab dari botulism adalah bakteri Clostridium botulinum adalah bakteri anaerobik, gram positif, membentuk spora, dan relatif besar. Clostridium botulinum berkembang biak melalui pembentukan spora dan produksi toksin.
-       PORT OF ENTRY
Penularan Botulisme pada manusia terjadi karena orang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi spora botulinum, luka terinfeksi spora botulinum dan ketika bayi mengkonsumsi spora botulinum. 
-       PORT OF EXIT
Botulinus terdapat dalam bentuk bakteri dan spora di dalam tanah, sedimen dilaut, permukaan buah dan sayur, di usus mamalia dan ikan dan di insang dan vixcera dari kerang-kerangan, kepiting. Karena spora botulinum, terdapat didalam tanah dan sedimen di dasar laut. Spora ini dapat berakhir di usus dari binatang yang memakan rumput dan ikan, kemudian memasuki rantai makanan manusia.


2.3  Tindakan Pencegahan Botulism
Mencegah Terjadinya Botulisme Berikut ini adalah tindakan pencegahan yang sebaiknya diperhatikan secara serius:
A.  Mencegah Botulisme Bayi
Dari hasil penelitian, madu acapkali sebagai sumber kontaminan, oleh karena itu sebaiknya tidak diberikan pada bayi berusia dibawah satu tahun. Selain itu, apabila memberikan susu formula, perhatikan tata cara perlakuan sebelum dikonsumsi bayi. Diantaranya merebus botol susu, menutup segera bungkus susu yang tersisa dan menyimpannya di tempat yang aman dan bersih.
B.  Mencegah Botulisme Makanan
Sebelum membeli makanan kaleng, perhatikan bentuk wadahnya. Bentuk yang terkontaminasi kembung secara menonjol, relatif jauh berbeda dengan yang normal. Ikuti tata cara perlakuan sebelum mengkonsumsi makanan awetan, khususnya yang dikalengkan, atau rebus hingga mendidih selama 10 menit, waktu dihitung mulai saat mendidih. Akan jauh lebih baik apabila direbus di dalam panci presto. Demikian juga untuk jenis makanan awetan tertutup lainnya.
C.  Mencegah Botulisme Luka
Menghindari luka dari kotoran khususnya dari tanah. Segera memberikan cairan antiseptik. Tidak menutup luka rapat-rapat (kedap udara).

2.4  Pengendalian Botulism
Tindakan pengendalian khusus bagi industri terkait bakteri ini adalah penerapan sterilisasi panas dan penggunaan nitrit pada daging yang dipasteurisasi. Sedangkan bagi rumah tangga atau pusat penjualan makanan antara lain dengan memasak pangan kaleng dengan seksama (rebus dan aduk selama 15 menit), simpan pangan dalam lemari pendingin terutama untuk pangan yang dikemashampa udara dan pangan segar atau yang diasap. Hindari pula mengkonsumsi pangan kaleng yang kemasannya telah menggembung.

2.5  Pemberantasan Botulism
            Dalam tindakan pemberantasan dari botulism dapat dilakukan sebagai berikut:
1)      Lakukan pengawasan yang ketat terhadap proses pengolahan makanan dalam kaleng serta makanan yang diawetkan lainnya.
2)      Beri penyuluhan kepada mereka yang bekerja pada proses pengolahan makanan, baik pengolahan makanan kaleng rumah tangga maupun kepada mereka yang bekerja pada proses pengawetan makanan. Materi penyuluhan adalah tentang teknik pengolahan makanan yang benar terutama berkaitan dengan masalah waktu, tekanan dan suhu yang tepat untuk menghancurkan spora. Begitu pula materi penyuluhan berisi pengetahuan tentang teknik penyimpanan makanan yang belum diolah secara sempurna didalam lemari es dan cara-cara memasak dan mengaduk dengan benar sayur-sayuran yang akan dikalengkan
sebagai industri rumah tangga. Diperlukan waktu paling sedikit selama 10 menit untuk menghancurkan toksin botulinum.
3)       C. botulinum kadang-kadang bisa atau tidak bisa menyebabkan tutup kaleng menggembung dan menimbulkan bau. Bahan pencemar lain juga dapat menyebabkan tutup kaleng atau botol menggembung. Wadah yang menggembung sebaiknya tidak dibuka, dan makanan yang berbau sebaiknya tidak dimakan atau dicicipi. Makanan kaleng yang sudah menggembung sebaiknya dikembalikan ke penjualnya tanpa dibuka.
4)      Walaupun spora C. botulinum dapat dijumpai dimana saja, makanan yang diketahui tercemar seperti madu, sebaiknya tidak diberikan kepada bayi.

A.    Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
1.    Laporan kepada instansi kesehatan setempat. Kasus pasti dan yang dicurigai wajib dilaporkan di kebanyakan negara dan negara bagian, Kelas 2A (lihat tentang pelaporan penyakit menular); diperlukan laporan segera melalui telepon.
2.    Isolasi: tidak diperlukan, tetapi cucilah tangan sesudah menangani popok yang tercemar.
3.    Disinfeksi serentak: makanan yang tercemar sebaiknya di detoksifikasi dengan cara merebusnya sebelum dibuang, atau wadahnya dihancurkan dan di kubur dalam-dalam di dalam tanah untuk mencegah makanan tersebut dimakan oleh binatang. Barang-barang yang terkontaminasi sebaiknya disterilisasi dengan cara merebus atau dengan disinkfeksi klorin untuk menonaktifkan racun yang tersisa. Lakukan pembuangan tinja yang saniter dari penderita bayi. Pembersihan terminal.
4.    Karantina : tidak ada
5.    Manajemen kontak : tidak dilakukan untuk kontak langsung biasa. Terhadap mereka yang diketahui telah mengkonsumsi makanan yang tercemar harus diberi pencahar, dilakukan lavage lambung dan enema tinggi dan di observasi dengan ketat. Keputusan untuk memberikan pengobatan presumptive dengan antitoksin polyvalent (equine AB atau ABE) bagi orang yang terpajan namun tidak menunjukkan gejala harus dipertimbangkan benar : harus diperhitungkan manfaat pemberian antitoksin di awal kejadian (dalam waktu 1–2 hari sesudah mengkonsumsi makanan tercemar) terhadap risiko efek samping yang berat karena peka terhadap serum kuda.
6.    Investigasi kontak dan sumber racun: selidiki makanan apa yang dikonsumsi oleh penderita, kumpulkan semua makanan yang dicurigai untuk pemeriksaan laboratorium yang semestinya dan kemudian dimusnahkan dengan cara yang benar. Cari kasus-kasus tambahan untuk memastikan bahwa telah terjadi KLB botulisme yang ditularkan oleh makanan.
7.    Pengobatan spesifik: jika terjadi botulisme berikan sesegera mungkin 1 vial antiracun botulinum polyvalent (AB atau ABE) intravena. Anti racun ini tersedia di CDC, Atlanta, dan dapat diminta melalui departemen kesehatan negara bagian sebagai bagian dari pengobatan rutin (nomor telpon darurat di CDC untuk botulisme pada jam kerja adalah: 404-639-2206 dan sesudah jam kerja atau hari libur : 404-2888). Serum sebaiknya diambil untuk mengidentifikasi toksin spesifik sebelum anti toksin di berikan, namun anti toksin sebaiknya jangan ditunda pemberiannya karena menunggu hasil tes. Yang terpenting dilakukan adalah akses
secepatnya ke ICU untuk antisipasi kemungkinan terjadinya kegagalan pernapasan, yang dapat menyebabkan kematian, sehingga perlu ditangani dengan cepat dan tepat. Untuk botulisme luka, selain anti toksin, luka sebaiknya di bersihkan (debridemen) dan atau di lakukan drainase, diberikan antibiotik yang tepat (misalnya penisilin). Pada botulisme saluran pencernaan, perawatan supportive yang cermat sangat penting. Anti toksin botulinum serum kuda tidak digunakan karena dikhawatirkan terjadi renjatan anafilaksis. Imunoglobulin untuk botulisme (Botulinal Immune, BIG) saat ini tersedia hanya untuk botulismus pada bayi yang telah disetujui oleh FDA dengan label Protokol penelitian penggunaan obat baru dari Depertemen Kesehatan California. Informasi tentang BIG untuk pengobatan empiris terhadap mereka yang dicurigai menderita botulisme saluran pencernaan bayi bisa diperoleh dari Departemen Kesehatan melalui Saluran 24 jam pada nomor 510-540-2646. Pemberian Antibiotik tidak berpengaruh pada perjalanan penyakit dan pemberian aminoglikosid justru bisa membuat keadaan lebih buruk oleh karena adanya blokade neuromuskuler. Dengan demikian antibiotik sebaiknya digunakan hanya untuk infeksi sekunder. Bantuan pernafasan mungkin diperlukan.
B.     Penanggulangan wabah.
Bila terjadi kasus botulisme, sebaiknya segera diteliti apakah telah terjadi KLB yang menimpa keluarga atau orang-orang lain yang mengkonsumsi makanan yang sama. Makanan yang diawetkan dan dikalengkan dalam industri rumah tangga dan dicurigai tercemar sebaiknya disingkirkan. Walaupun makanan dari restoran atau makanan olahan komersial yang didistribusikan secara luas, kadang-kadang terbukti sebagai sumber keracunan, dan ini jauh lebih mengancam kesehatan masyarakat. Bahkan beberapa KLB yang dilaporkan terjadi baru-baru ini melibatkan jenis makanan yang tidak biasa, dan secara teoritis jenis makanan tersebut tidak mungkin sebagai sumber KLB. Pada saat produk makanan tertentu terbukti tercemar melalui pemeriksaan laboratorium atau melalui penyelidikan epidemiologis, maka produk makanan tersebut harus ditarik segera dan lacak orang-orang yang mengkonsumsi makanan yang sama dan makanan yang tersisa dari produk yang sama. Sisa makanan dari produk yang sama mungkin tercemar, dan jika ditemukan harus dikirim untuk pemeriksaan laboratorium. Kumpulan sera dan cairan lambung serta tinja dari pasien, atau bila perlu dari orang yang terpajan tetapi tidak sakit dan dikirim segera ke laboratorium yang telah di tunjuk sebelum orang-orang ini diberi antitoksin.


BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
            Botulisme adalah penyakit langka tapi sangat serius dan merupakan penyakit paralisis gawat yang disebabkan oleh racun (toksin) yang menyerang saraf yang diproduksi bakteri Clostridium Botulinum. Selain bakteri Clostridium Botulinum, ada pun  bakteri lain yang menjadi penyebab terjadinya racun yang mengakibatkan botulisme adalah Clostridium baratii dan Clostridium butyricum.
Beberapa jenis bakteri ini dapat memproduksi racun kimia yang disebut dengan toksin botulinum yang dapat merusak fungsi otot di banyak daerah tubuh, menyebabkan kelumpuhan otot. Bakteri ini dapat meracuni kita melalui konsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Penularan Botulisme pada manusia terjadi karena orang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi spora botulinum, luka terinfeksi spora botulinum dan ketika bayi mengkonsumsi spora botulinum. 


3.2  Saran

            Agar tidak terkena penyakit botulism yang disebabkan oleh bakteri Clostridium Botulinum sebaiknya kita harus memperhatikan kebersihan makanan  dan juga menghindari luka di tubuh kita dari kotoran khususnya dari tanah agar tidak terjadi infeksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar