BOTULISME (TETRIS FARIKAH-14111101107)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Botulisme sangat jarang
terjadi namun penyakit ini tergolong gawat dan sangat darurat, terbukti dengan
cukup tingginya angka kematian yang disebabkan oleh penyakit ini, sekitar
50-70%. Botulisme
adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh peracunan makanan oleh bakteri. Botulisme saluran pencernaan diusulkan sebagai identitas
penyakit baru dari apa yang sebelumnya disebut Botulisme bayi. Nama baru secara
resmi diterima pada pertengahan tahun 1999, ini sebagai pengganti istilah
botulisme bayi. Foodborne botulism adalah keracunan berat yang diakibatkan
karena menelan racun yang terbentuk di dalam makanan yang terkontaminasi.
Botulisme adalah penyakit langka
tapi sangat serius dan merupakan penyakit paralisis gawat yang disebabkan
oleh racun (toksin) yang menyerang saraf yang diproduksi bakteri Clostridium Botulinum. Selain bakteri Clostridium Botulinum, ada pun bakteri
lain yang menjadi penyebab terjadinya racun yang mengakibatkan botulisme adalah Clostridium baratii dan Clostridium butyricum.
Organisme secara umum terdapat dalam tanah dan dapat bertahan hidup dalam
lingkungan ini dalam bentuk spora. Beberapa jenis bakteri ini dapat memproduksi
racun kimia yang disebut dengan toksin botulinum yang dapat merusak fungsi otot
di banyak daerah tubuh, menyebabkan kelumpuhan otot. Bakteri ini dapat meracuni kita melalui konsumsi makanan yang telah
terkontaminasi. Bakteri ini biasanya mengkontaminasi makanan melalui debu yang
hinggap pada makanan dalam bentuk spora yang dapat pindah dan aktif dan
menghasilkan racun berbahaya.
Clostridium botulinum adalah
bakteri anaerobik, gram positif, membentuk spora, dan relatif besar. Clostridium
botulinum tersebar secara luas dalam tanah dan tanaman, isi usus dari hewan
mamalia, burung dan ikan. Tiga jenis utama penyakit ini adalah bawaan makanan,
luka dan bayi.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui
pengertian botulism
2. Mengetahui
cara penularan dari botulisme.
3. Mengetahui
tindakan pencegahan dari botulisme.
4. Mengetahui
bagaimana pengendalian botulisme.
5. Memahami
tindakan pemberantasan botulism.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Botulism
Botulisme
berasal dari kata botulisme yang berarti sosis. Penyakit ini diberi nama
demikian karena selama bertahun-tahun sosis yang tidak dimasak dihubungkan
dengan penyakit ini. Botulin, juga dikenal sebagai botox, yaitu toksin bakteri
paling mematikan yang dapat terbentuk pada makanan kaleng yang tidak diproses
dengan benar atau cukup dipanasi.
Botulisme adalah
penyakit langka tapi sangat serius dan merupakan penyakit
paralisis gawat yang disebabkan oleh racun (toksin) yang menyerang saraf yang
diproduksi bakteri Clostridium
Botulinum. Selain bakteri Clostridium
Botulinum, ada pun bakteri lain yang menjadi penyebab terjadinya racun yang
mengakibatkan botulisme adalah Clostridium baratii dan Clostridium butyricum.
Clostridium
botulinum adalah bakteri anaerobik, gram positif, membentuk spora, dan
relatif besar. Clostridium
botulinum berkembang biak melalui pembentukan spora dan
produksi toksin. Toksin tersebut dapat dihancurkan oleh suhu yang tinggi,
karena itu botulisme sangat jarang sekali dijumpai di lingkungan atau
masyarakat
yang mempunyai kebiasaan memasak atau merebus sampai matang.
Ada
3 jenis utama botulisme
1. Foodborne
Botulisme
Disebabkan karena makanan yang mengandung toksin botulisme.
2. Wound
Botulisme
Disebabkan toksin dari luka yang terinfeksi oleh Clostridum Botulinum.
3. Infant
Botulisme
Disebabkan karena spora
dari bakteri botulinum, yang kemudian berkembang dalam usus dan melepaskan toksin.
2.2 Penularan
Botulism
Penularan Botulisme
pada manusia terjadi karena orang mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi
spora botulinum, luka terinfeksi spora botulinum dan ketika bayi mengkonsumsi
spora botulinum.
Clostridium
botulinum tersebar luas di seluruh dunia. Botulinus terdapat dalam bentuk
bakteri dan spora di dalam tanah, sedimen dilaut, permukaan buah dan sayur, di
usus mamalia dan ikan dan di insang dan vixcera dari kerang-kerangan, kepiting.
Karena spora botulinum, terdapat didalam tanah dan sedimen di dasar laut. Spora
ini dapat berakhir di usus dari binatang yang memakan rumput dan ikan, kemudian
memasuki rantai makanan manusia.
Botulism pada bayi
disebabkan tertelannya bakteri itu, dan bukan tertelannya racun. Terdapat tiga
tipe keracunan menurut cara terjangkitnya. Hampir seluruh kejadian (90%)
terjadi karena buruknya makanan kaleng yang diawetkan. Botulism akibat makanan
(Foodborne botulism) biasanya disebabkan oleh daging yang tercemar (termasuk
seafood) dan sayuran kaleng.
Botulism pada bayi
(Infant botulism) merupakan bentuk botulism yang paling umum. Disebabkan oleh
menghirup spora bersamaan dengan partikel debu yang mikroskopis. Botulism pada
luka (wound botulism) merupakan bentuk botulism yang paling jarang. Dapat
terjadi ketika bakteri meng-infeksi luka (seperti luka koyak atau retaknya
susunan tulang) dan memproduksi racun in vivo. Spora tumbuh secara lokal
(didalam luka) dan racun bersirkulasi melalui pembuluh darah untuk mencapai bagian
lain dari tubuh. Jalan masuk spora pada luka dapat saja kecil dan terlihat
tidak penting.
Pada makanan-makanan
kalengan, bakteri ini sengaja dimasukkan dengan tujuan agar dapat membantu
dalam mengawetkan makanan tersebut dengan keadaan yang dorman (tidak
diaktifkan). Tetapi, apabila makanan kaleng telah kadarluasa, maka
didalam kaleng bakteri ini akan aktif sehingga sporanya akan berkembang dan
bakteri ini akan menghasilkan racun yang berupa neurotoksin (racun yang dapat
langsung menyerang saraf) yang akan menyerang jaringan syaraf, sehingga dapat
mengakibatkan kematian bagi yang mengkonsumsinya.
Gejala
neurologis dari botulisme yang ditularkan oleh makanan biasanya muncul dalam
12–36 jam, kadang-kadang beberapa hari, sesudah mengkonsumsi makanan yang
terkontaminasi. Pada umumnya, semakin pendek masa inkubasi, semakin berat
penyakitnya dan semakin tinggi CFR-nya. Masa inkubasi dari botulisme saluran
pencernaan pada bayi tidak diketahui, karena kapan saat bayi menelan makanan
yang terkontaminasi tidak diketahui.
Masa
penularan, walaupun racun C. botulisnum dan bakterinya dikeluarkan bersama
tinja pada kadar yang tinggi (ca. 106 organisme/g) oleh pasien botulisme
saluran pencernaan selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan sesudah onset
penyakit, namun tidak ada bukti terjadi penularan dari orang ke orang. Pasien
Botulisme yang ditularkan melalui makanan biasanya mengeluarkan racun dan
bakteri dalam jangka waktu yang lebih pendek.
Kekebalan
dan kerentanan semua orang rentan. Hampir semua pasien dengan botulisme
pencernaan yang di rawat dirumah sakit berusia antara 2 minggu dan 1 tahun; 94
% berusia kurang dari 6 bulan, dan median umur penderita adalah 13 minggu.
Kasus botulisme saluran pencernaan terjadi di semua ras dan kelompok etnik.
Orang dewasa yang mempunyai gangguan buang air besar yang mengarah pada
gangguan flora usus (atau flora usus yang secara tidak sengaja terganggu karena
pengobatan antibiotik untuk tujuan lain) bisa rentan mengidap botulisme saluran
pencernaan.
- RESERVOIR
Reservoir Spora ini tersebar di atas tanah di seluruh
dunia, kadang-kadang ditemukan pada produk pertanian termasuk madu. Spora juga
ditemukan pada lapisan sedimen di dasar laut dan di saluran pencernaan
binatang, termasuk ikan.
- AGEN
Agen
penyebab dari botulism adalah bakteri Clostridium botulinum adalah bakteri
anaerobik, gram positif, membentuk spora, dan relatif besar. Clostridium botulinum berkembang biak
melalui pembentukan spora dan produksi toksin.
- PORT
OF ENTRY
Penularan
Botulisme pada manusia terjadi karena orang mengkonsumsi makanan yang
terkontaminasi spora botulinum, luka terinfeksi spora botulinum dan ketika bayi
mengkonsumsi spora botulinum.
- PORT
OF EXIT
Botulinus
terdapat dalam bentuk bakteri dan spora di dalam tanah, sedimen dilaut,
permukaan buah dan sayur, di usus mamalia dan ikan dan di insang dan vixcera
dari kerang-kerangan, kepiting. Karena spora botulinum, terdapat didalam tanah
dan sedimen di dasar laut. Spora ini dapat berakhir di usus dari binatang yang
memakan rumput dan ikan, kemudian memasuki rantai makanan manusia.
2.3 Tindakan Pencegahan Botulism
Mencegah Terjadinya Botulisme Berikut ini adalah tindakan
pencegahan yang sebaiknya diperhatikan secara serius:
A. Mencegah Botulisme Bayi
Dari
hasil penelitian, madu acapkali sebagai sumber kontaminan, oleh karena itu
sebaiknya tidak diberikan pada bayi berusia dibawah satu tahun. Selain itu,
apabila memberikan susu formula, perhatikan tata cara perlakuan sebelum
dikonsumsi bayi. Diantaranya merebus botol susu, menutup segera bungkus susu
yang tersisa dan menyimpannya di tempat yang aman dan bersih.
B. Mencegah Botulisme Makanan
Sebelum
membeli makanan kaleng, perhatikan bentuk wadahnya. Bentuk yang terkontaminasi
kembung secara menonjol, relatif jauh berbeda dengan yang normal. Ikuti tata
cara perlakuan sebelum mengkonsumsi makanan awetan, khususnya yang dikalengkan,
atau rebus hingga mendidih selama 10 menit, waktu dihitung mulai saat mendidih.
Akan jauh lebih baik apabila direbus di dalam panci presto. Demikian juga untuk
jenis makanan awetan tertutup lainnya.
C. Mencegah Botulisme Luka
Menghindari
luka dari kotoran khususnya dari tanah. Segera memberikan cairan antiseptik.
Tidak menutup luka rapat-rapat (kedap udara).
2.4 Pengendalian Botulism
Tindakan pengendalian khusus bagi industri terkait bakteri ini adalah
penerapan sterilisasi panas dan penggunaan nitrit pada daging yang
dipasteurisasi. Sedangkan bagi rumah tangga atau pusat penjualan makanan antara
lain dengan memasak pangan kaleng dengan seksama (rebus dan aduk selama 15
menit), simpan pangan dalam lemari pendingin terutama untuk pangan yang
dikemashampa udara dan pangan segar atau yang diasap. Hindari pula mengkonsumsi
pangan kaleng yang kemasannya telah menggembung.
2.5 Pemberantasan
Botulism
Dalam tindakan pemberantasan dari botulism dapat
dilakukan sebagai berikut:
1)
Lakukan pengawasan
yang ketat terhadap proses pengolahan makanan dalam kaleng serta makanan yang
diawetkan lainnya.
2)
Beri penyuluhan
kepada mereka yang bekerja pada proses pengolahan makanan, baik pengolahan
makanan kaleng rumah tangga maupun kepada mereka yang bekerja pada proses
pengawetan makanan. Materi penyuluhan adalah tentang teknik pengolahan makanan
yang benar terutama berkaitan dengan masalah waktu, tekanan dan suhu yang tepat
untuk menghancurkan spora. Begitu pula materi penyuluhan berisi pengetahuan
tentang teknik penyimpanan makanan yang belum diolah secara sempurna didalam
lemari es dan cara-cara memasak dan mengaduk dengan benar sayur-sayuran yang
akan dikalengkan
sebagai industri rumah tangga. Diperlukan waktu paling sedikit selama 10 menit untuk menghancurkan toksin botulinum.
sebagai industri rumah tangga. Diperlukan waktu paling sedikit selama 10 menit untuk menghancurkan toksin botulinum.
3)
C. botulinum kadang-kadang bisa atau tidak
bisa menyebabkan tutup kaleng menggembung dan menimbulkan bau. Bahan pencemar
lain juga dapat menyebabkan tutup kaleng atau botol menggembung. Wadah yang
menggembung sebaiknya tidak dibuka, dan makanan yang berbau sebaiknya tidak
dimakan atau dicicipi. Makanan kaleng yang sudah menggembung sebaiknya
dikembalikan ke penjualnya tanpa dibuka.
4)
Walaupun spora C.
botulinum dapat dijumpai dimana saja, makanan yang diketahui tercemar seperti
madu, sebaiknya tidak diberikan kepada bayi.
A. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
1. Laporan kepada instansi kesehatan setempat. Kasus pasti dan
yang dicurigai wajib dilaporkan di kebanyakan negara dan negara bagian, Kelas
2A (lihat tentang pelaporan penyakit menular); diperlukan laporan segera
melalui telepon.
2. Isolasi: tidak diperlukan, tetapi cucilah tangan sesudah
menangani popok yang tercemar.
3. Disinfeksi serentak: makanan yang tercemar sebaiknya di
detoksifikasi dengan cara merebusnya sebelum dibuang, atau wadahnya dihancurkan
dan di kubur dalam-dalam di dalam tanah untuk mencegah makanan tersebut dimakan
oleh binatang. Barang-barang yang terkontaminasi sebaiknya disterilisasi dengan
cara merebus atau dengan disinkfeksi klorin untuk menonaktifkan racun yang
tersisa. Lakukan pembuangan tinja yang saniter dari penderita bayi. Pembersihan
terminal.
4. Karantina : tidak ada
5. Manajemen kontak : tidak dilakukan untuk kontak langsung
biasa. Terhadap mereka yang diketahui telah mengkonsumsi makanan yang tercemar
harus diberi pencahar, dilakukan lavage lambung dan enema tinggi dan di
observasi dengan ketat. Keputusan untuk memberikan pengobatan presumptive
dengan antitoksin polyvalent (equine AB atau ABE) bagi orang yang terpajan
namun tidak menunjukkan gejala harus dipertimbangkan benar : harus
diperhitungkan manfaat pemberian antitoksin di awal kejadian (dalam waktu 1–2
hari sesudah mengkonsumsi makanan tercemar) terhadap risiko efek samping yang
berat karena peka terhadap serum kuda.
6. Investigasi kontak dan sumber racun: selidiki makanan apa
yang dikonsumsi oleh penderita, kumpulkan semua makanan yang dicurigai untuk
pemeriksaan laboratorium yang semestinya dan kemudian dimusnahkan dengan cara
yang benar. Cari kasus-kasus tambahan untuk memastikan bahwa telah terjadi KLB
botulisme yang ditularkan oleh makanan.
7. Pengobatan spesifik: jika terjadi botulisme berikan
sesegera mungkin 1 vial antiracun botulinum polyvalent (AB atau ABE) intravena.
Anti racun ini tersedia di CDC, Atlanta, dan dapat diminta melalui departemen
kesehatan negara bagian sebagai bagian dari pengobatan rutin (nomor telpon
darurat di CDC untuk botulisme pada jam kerja adalah: 404-639-2206 dan sesudah
jam kerja atau hari libur : 404-2888). Serum sebaiknya diambil untuk
mengidentifikasi toksin spesifik sebelum anti toksin di berikan, namun anti
toksin sebaiknya jangan ditunda pemberiannya karena menunggu hasil tes. Yang
terpenting dilakukan adalah akses
secepatnya ke ICU untuk antisipasi kemungkinan terjadinya kegagalan pernapasan, yang dapat menyebabkan kematian, sehingga perlu ditangani dengan cepat dan tepat. Untuk botulisme luka, selain anti toksin, luka sebaiknya di bersihkan (debridemen) dan atau di lakukan drainase, diberikan antibiotik yang tepat (misalnya penisilin). Pada botulisme saluran pencernaan, perawatan supportive yang cermat sangat penting. Anti toksin botulinum serum kuda tidak digunakan karena dikhawatirkan terjadi renjatan anafilaksis. Imunoglobulin untuk botulisme (Botulinal Immune, BIG) saat ini tersedia hanya untuk botulismus pada bayi yang telah disetujui oleh FDA dengan label Protokol penelitian penggunaan obat baru dari Depertemen Kesehatan California. Informasi tentang BIG untuk pengobatan empiris terhadap mereka yang dicurigai menderita botulisme saluran pencernaan bayi bisa diperoleh dari Departemen Kesehatan melalui Saluran 24 jam pada nomor 510-540-2646. Pemberian Antibiotik tidak berpengaruh pada perjalanan penyakit dan pemberian aminoglikosid justru bisa membuat keadaan lebih buruk oleh karena adanya blokade neuromuskuler. Dengan demikian antibiotik sebaiknya digunakan hanya untuk infeksi sekunder. Bantuan pernafasan mungkin diperlukan.
secepatnya ke ICU untuk antisipasi kemungkinan terjadinya kegagalan pernapasan, yang dapat menyebabkan kematian, sehingga perlu ditangani dengan cepat dan tepat. Untuk botulisme luka, selain anti toksin, luka sebaiknya di bersihkan (debridemen) dan atau di lakukan drainase, diberikan antibiotik yang tepat (misalnya penisilin). Pada botulisme saluran pencernaan, perawatan supportive yang cermat sangat penting. Anti toksin botulinum serum kuda tidak digunakan karena dikhawatirkan terjadi renjatan anafilaksis. Imunoglobulin untuk botulisme (Botulinal Immune, BIG) saat ini tersedia hanya untuk botulismus pada bayi yang telah disetujui oleh FDA dengan label Protokol penelitian penggunaan obat baru dari Depertemen Kesehatan California. Informasi tentang BIG untuk pengobatan empiris terhadap mereka yang dicurigai menderita botulisme saluran pencernaan bayi bisa diperoleh dari Departemen Kesehatan melalui Saluran 24 jam pada nomor 510-540-2646. Pemberian Antibiotik tidak berpengaruh pada perjalanan penyakit dan pemberian aminoglikosid justru bisa membuat keadaan lebih buruk oleh karena adanya blokade neuromuskuler. Dengan demikian antibiotik sebaiknya digunakan hanya untuk infeksi sekunder. Bantuan pernafasan mungkin diperlukan.
B. Penanggulangan wabah.
Bila
terjadi kasus botulisme, sebaiknya segera diteliti apakah telah terjadi KLB
yang menimpa keluarga atau orang-orang lain yang mengkonsumsi makanan yang
sama. Makanan yang diawetkan dan dikalengkan dalam industri rumah tangga dan
dicurigai tercemar sebaiknya disingkirkan. Walaupun makanan dari restoran atau
makanan olahan komersial yang didistribusikan secara luas, kadang-kadang
terbukti sebagai sumber keracunan, dan ini jauh lebih mengancam kesehatan
masyarakat. Bahkan beberapa KLB yang dilaporkan terjadi baru-baru ini
melibatkan jenis makanan yang tidak biasa, dan secara teoritis jenis makanan
tersebut tidak mungkin sebagai sumber KLB. Pada saat produk makanan tertentu
terbukti tercemar melalui pemeriksaan laboratorium atau melalui penyelidikan
epidemiologis, maka produk makanan tersebut harus ditarik segera dan lacak
orang-orang yang mengkonsumsi makanan yang sama dan makanan yang tersisa dari
produk yang sama. Sisa makanan dari produk yang sama mungkin tercemar, dan jika
ditemukan harus dikirim untuk pemeriksaan laboratorium. Kumpulan sera dan
cairan lambung serta tinja dari pasien, atau bila perlu dari orang yang
terpajan tetapi tidak sakit dan dikirim segera ke laboratorium yang telah di
tunjuk sebelum orang-orang ini diberi antitoksin.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Botulisme adalah penyakit langka tapi sangat serius dan merupakan penyakit
paralisis gawat yang disebabkan oleh racun (toksin) yang menyerang saraf yang
diproduksi bakteri Clostridium
Botulinum. Selain bakteri Clostridium Botulinum,
ada pun bakteri
lain yang menjadi penyebab terjadinya racun yang mengakibatkan botulisme adalah Clostridium baratii dan Clostridium butyricum.
Beberapa
jenis bakteri ini dapat memproduksi racun kimia yang disebut dengan toksin
botulinum yang dapat merusak fungsi otot di banyak daerah tubuh, menyebabkan
kelumpuhan otot. Bakteri ini dapat meracuni kita
melalui konsumsi makanan yang telah terkontaminasi.
Penularan Botulisme pada manusia terjadi karena orang mengkonsumsi makanan yang
terkontaminasi spora botulinum, luka terinfeksi spora botulinum dan ketika bayi
mengkonsumsi spora botulinum.
3.2 Saran
Agar tidak terkena penyakit botulism
yang disebabkan oleh bakteri Clostridium
Botulinum
sebaiknya kita harus memperhatikan kebersihan makanan dan juga menghindari
luka di tubuh kita dari kotoran khususnya dari tanah agar tidak terjadi
infeksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar