PENGENDALIAN VEKTOR DI WILAYAH PESISIR DAN PANTAI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pesisir merupakan wilayah yang sangat berarti bagi
kehidupan manusia di bumi. Sebagai wilayah peralihan darat dan laut yang
memiliki keunikan ekosistem, dunia memiliki kepedulian terhadap wilayah ini,
khususnya di bidang lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan
(sustainable development). Kawasan pesisir juga dipahami sebagai kawasan tempat
bertemunya berbagai kepentingan, baik
masyarakat, pemerintah kabupaten, dan investor dalam rangka memanfaatkan
potensi kawasan pesisir. Kawasan Pesisir adalah kawasan yang sangat kaya akan
sumber daya alam dan sangat potensial sebagai modal dasar pembangaunan nasional.
Kawasan pesisir ini
memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan, serta memudahkan
terjadinya pedagangan antar daerah, pulau dan benua. Selain itu, wilayah
pesisir juga merupakan daerah penghambat masuknya gelombang besar air laut ke
darat, yaitu dengan keberadaan hutan mangrove.
Vektor adalah
parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular penyakit baik
pada manusia maupun hewan. Keberadaan vektor ini sangat penting karena kalau
tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar.
Dalam rangka melindungi negara dari
penularan/penyebaran penyakit oleh serangga (vektor) maupun kuman /bakteri yang
terbawa oleh alat angkut, dan barang bawaan yang masuk melalui pintu-pintu
masuk negara tersebut, berdasarkan International Health Regulation (IHR) Tahun
2005 yang berlaku, “semua alat angkut harus bebas dari vektor”.
1.2.
Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana peranan vektor di wilayah pesisir ?
1.2.2. Apa saja permasalahan masyarakat di wilayah pesisir ?
1.2.3. Bagaimana pengendalian
vektor di wilayah pantai dan pesisir ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1. Mengetahui bagaimana peranan
vektor di wilayah pesisir.
1.3.2. Mengetahui apa saja
permasalahan masyarakat di wilayah pesisir.
1.3.3. Mengetahui bagaimana
pengendalian vektor di wilayah pesisir.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Peranan Vektor
Secara definisi
vektor adalah parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular
penyakit baik pada manusia maupun hewan. Keberadaan vektor ini sangat penting
karena kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar. Ada
beberapa jenis vektor dilihat dari cara kerjanya sebagai penular penyakit
sebagai berikut:
1.
Vektor
potensial
Vektor
potensial adalah vektor yang secara aktif berperan dalam penyebaran penyakit.
Vektor ini baik secara biologis maupun mekananis selalu mencari hospesnya untuk
kelangsungan hidupnya. Selain itu ada vektor pasif, artinya secara ilmiah dapat
dibuktikan bahwa dalam tubuh vektor ada agen patogen dan dapat menularkan agen
tersebut kepada hospes lain, tetapi vektor ini tidak aktif mencari mangsanya. Dengan
adanya perubahan lingkungan, kemungkinan vektor tersebut dapat berubah menjadi
aktif.
2.
Vektor
biologis
Vektor
biologis adalah dimana agen penyakit harus mengalami perkembangan ke stadium
lebih lanjut. Bila tidak ada vektor maka agen penyakit kemungkinan akan mati.
Contoh yang paling mudah adalah schistosomiasis, penyakit akibat
cacing Schistosoma japonicum. Larva (miracidium) masuk ke dalam tubuh
siput, berkembang menjadi sporocyst dan selanjutnya menjadi redia, kemudian
menjadi cercaria yang akan keluar dari tubuh siput, aktif mencari definif host,
melalui kulit dimana akan terjadi dermatitis (SOULSBY, 1982).
3.
Vektor
mekanis
Vektor
mekanis adalah dimana agen penyakit tidak mengalami perkembangan, tetapi hanya
sebagai pembawa agen penyakit. Tidak seperti penyakit malaria atau arbovirus
dimana terjadinya infeksi cukup satu kali gigitan vektor yang sudah terinfeksi,
pada infeksi filaria, vektor harus sering menggigit hospesnya agar terjadi
infeksi. Diperkirakan lebih dari 100 gigitan agar cacing dapat bereproduksi dan
menghasilkan mikrofilaria.
4.
Vektor
insidentil
Vektor
insidentil adalah vektor ini secara kebetulan hinggap pada manusia, kemudian
mengeluarkan faeces yang sudah terkontaminasi agen penyakit dekat mulut. Secara
tidak sengaja masuk ke dalam mulut, contohnya pada penyakit Chagas yang
disebabkan oleh Trypanosoma cruzi dan vektor yang berperan adalah Triatoma
bugs. Vektornya sebenarnya masuk dalam siklus silvatik, hanya diantara hewan
rodensia. Manusia terkontaminasi bila vektornya masuk dalam lingkungan manusia.
2.2. Permasalahan
di Wilayah Pesisir
Ada beberapa
masalah yang terjadi dalam pembangunan wilayah pesisir dan lautan di
Indonesia antara lain adalah pencemaran, degradasi habitat,
over eksploitasi sumber daya alam, abrasi pantai, konversi kawasan lindung
menjadi peruntukan pembangunan lainnya, dan bencana alam sebagai berikut:
1.
Pencemaran
Pencemaran
laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau
komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga
kualitasnya menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut
tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya (DKPRI, 2002). Pada
beberapa kasus pencemaran yang ada di laut, sebagian terjadi karena bahan kimia
yang berbahaya yang berbentuk kecil. Bahan kimia tersebut dimakan oleh plankton
dan binatang lainnya. Karena zat tersebut dimakan oleh plankton, dan plankton
dimakan oleh binatang lainnya hingga akhirnya dimakan oleh manusia, akan
membuat manusia yang memakannya dapat mengalami keracunan. Jika kadar yang ada
dalam ikan tinggi, maka potensi keracunan menjadi lebih besar dan serius.
Beberapa dampak yang terjadi karena pencemaran lingkungan laut sebagai berikut
:
a.
Menyebabkan keracunan pada tubuh makhluk hidup yang
berhubungan dengan laut misalnya ikan, burung laut, dan manusia.
b.
Mengancam kehidupan dan kelangsungan hewan dan
tumbuhan yang hidup di laut.
Masalah
pencemaran ini disebabkan karena aktivitas manusia seperti pembukaan lahan
untuk pertanian, pengembangan kota dan industri, penebangan kayu dan
penambangan di Daerah Aliran Sungai (DAS). Pembukaan lahan atas sebagai bagian
dari kegiatan pertanian telah meningkatkan limbah pertanian baik padat maupun
cair yang masuk ke perairan pesisir dan laut melalui aliran sungai. Begitu
juga dengan vektor pembawa penyakit, apalagi dengan kondisi sanitasi lingkungan
yang masih memprihatinkan. Industri merupakan sumber bahan sedimen dan
pencemaran perairan pesisir dan laut. Pesatnya perkembangan pemukiman
dan kota telah meningkatkan jumlah sampah baik padat maupun cair yang
merupakan sumber pencemaran pesisir dan laut yang sulit
dikontrol. Sehingga berdampak pada kesehatan masyarakat di wilayah
tersebut.
2. Kerusakan
Fisik Habitat
Kerusakan fisik habitat wilayah
pesisir dan lautan telah mengakibatkan penurunan kualitas ekosistem. Hal ini
terjadi pada ekosistem mangrove, terumbu karang, dan rumput laut. Kebanyakan
rusaknya habitat di daerah pesisir adalah akibat aktivitas manusia seperti
konversi hutan mangrove untuk kepentingan pemukiman, pembangunan infrastruktur,
dan perikanan tambak. Indonesia memiliki cadangan hutan mangrove
tropis terluas di dunia dengan luas sekitar 3,8 juta ha atau sekitar 30 – 40 %
dari jumlah seluruh hutan mangrove dunia Hutan mangrove di Indonesia terpusat
di Irian Jaya dan Maluku (71%), Sumatra (16 %), Kalimantan (9 %)
dan Sulawesi ( 2,5 %). Namun akibat dari aktivitas manusia, pada
tahun 1970 – 1980, luas hutan mangrove Indonesia berkurang sekitar
700.000 ha untuk penggunaan lahan lainnya (Nugroho dkk 2001).
3. Eksploitasi Sumber Daya Secara Berlebihan
Ada beberapa sumber daya perikanan yang telah dieksploitir secara berlebihan (overfishing), termasuk udang, ikan demersal, palagis kecil, dan ikan karang. Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah dengan penduduk padat, misalnya di Selat Malaka, pantai utara Pulau Jawa, Selat Bali, dan Sulawesi Selatan. Menipisnya stok sumber daya tersebut, selain karena overfishing juga dipicu oleh aktivitas ekonomi yang baik secara langsung atau tidak merusak ekosistem dan lingkungan sehingga perkembangan sumber daya perikanan terganggu. Disamping itu, kurangnya apresiasi dan pengetahuan manusia untuk melakukan konservasi sumber daya perikanan, seperti udang, mangrove, terumbu karang, dan lain-lain.
Ada beberapa sumber daya perikanan yang telah dieksploitir secara berlebihan (overfishing), termasuk udang, ikan demersal, palagis kecil, dan ikan karang. Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah dengan penduduk padat, misalnya di Selat Malaka, pantai utara Pulau Jawa, Selat Bali, dan Sulawesi Selatan. Menipisnya stok sumber daya tersebut, selain karena overfishing juga dipicu oleh aktivitas ekonomi yang baik secara langsung atau tidak merusak ekosistem dan lingkungan sehingga perkembangan sumber daya perikanan terganggu. Disamping itu, kurangnya apresiasi dan pengetahuan manusia untuk melakukan konservasi sumber daya perikanan, seperti udang, mangrove, terumbu karang, dan lain-lain.
4. Abrasi Pantai
Terdapat 2 faktor yang menyebabkan terjadinya abrasi pantai, yaitu :
Terdapat 2 faktor yang menyebabkan terjadinya abrasi pantai, yaitu :
1)
Proses alami (karena gerakan gelombang
pada pantai terbuka)
2)
Aktivitas manusia.
Kegiatan manusia tersebut misalnya kegiatan
penebangan hutan (HPH) atau pertanian di lahan atas yang tidak mengindahkan
konsep konservasi telah menyebabkan erosi tanah dan kemudian sedimen tersebut
dibawa ke aliran sungai serta diendapkan di kawasan pesisir. Aktivitas manusia
lainya adalah menebang atau merusak ekosistem mangrove di garis pantai baik
untuk keperluan kayu, bahan baku arang, maupun dalam
rangka pembuatan tambak. Hal-hal ini tentu secara ekologis telah
menghilangkan fungsi-fungsi ekologis dari hutan mangrove sebagai berikut:
a. Sebagai
peredam gelombang dan angin badai, pelindung pantai dari abrasi, penahan
lumpur, dan penangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan
b. Penghasil
detritus (bahan makanan bagi udang, kepiting, dan lain-lain) dan
mineral-mineral yang dapat menyuburkan perairan
c. Sebagai daerah nurshery ground, feeding ground
dan spawing ground bermacam biota perairan (Bengen, 2001).
5. Konversi Kawasan Lindung ke Penggunaan Lainnya.
Pergeseran penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan industri, property, perkantoran, dan lain sebagainya yang terkadang kebijakan persegeran tersebut tanpa mempertimbangkan efek ekologi, tetapi hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi jangka pendek. Demikian juga halnya yang terjadi di wilayah pesisir, banyak terjadi pergeseran lahan pesisir dan bahkan kawasan lindung sekalipun menjadi lahan pemukiman, industri, pelabuhan, perikanan tambak, dan pariwisata. Akibatnya terjadi kerusakan ekosistem di sekitar pesisir, terutama ekosistem mangrove. Jika ekosistem mangrove rusak dan bahkan punah, maka hal yang akan terjadi adalah:
Pergeseran penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan industri, property, perkantoran, dan lain sebagainya yang terkadang kebijakan persegeran tersebut tanpa mempertimbangkan efek ekologi, tetapi hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi jangka pendek. Demikian juga halnya yang terjadi di wilayah pesisir, banyak terjadi pergeseran lahan pesisir dan bahkan kawasan lindung sekalipun menjadi lahan pemukiman, industri, pelabuhan, perikanan tambak, dan pariwisata. Akibatnya terjadi kerusakan ekosistem di sekitar pesisir, terutama ekosistem mangrove. Jika ekosistem mangrove rusak dan bahkan punah, maka hal yang akan terjadi adalah:
a. regenerasi
stok ikan dan udang terancam
b. terjadi
pencemaran laut oleh bahan pencemar yang sebelumnya diikat oleh hutan mangrove
c. pedangkalan
perairan pantai
d. erosi
garis pantai dan intrusi garam.
6. Bencana
Alam
Bencana
alam merupakan kejadian alami yang berdampak negatif pada sumber daya pesisir
dan lautan diluar kontrol manusia. Beberapa macam bencana alam yang sering
terjadi di wilayah pesisir dan merusak lingkungan pesisir antara lain adalah
kenaikan muka laut, gelombang pasang tsunami, dan radiasi ultra violet.
2.3. Pengendalian
Vektor Di Wilayah Pantai dan Pesisir
Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan
menularkan suatu Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang
yang rentan. Bagi dunia kesehatan masyarakat, binatang yang termasuk
kelompok vektor yang dapat merugikan kehidupan manusia karena disamping
mengganggu secara langsung juga sebagai perantara penularan penyakit. Pengendalian vektor adalah semua upaya
yang dilakukan untuk menekan, mengurangi,
atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak membahayakan
kehidupan manusia. Adapun
prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan
sebagai berikut :
a) Pengendalian
vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap
berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan.
b) Pengendalian
vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata
lingkungan hidup.
Berikut
ada beberapa jenis pengendalian vektor di wilayah pantai dan pesisir sebagai
berikut:
1. Pencegahan
Vektor Masuk Di Daerah Pantai Atau Pesisir Melalui Kapal
Pencegahan vektor masuk di daerah pesisir atau
pantai dengan dilaksanakannya program disinseksi yaitu untuk menghindari kapal
dari serangga atau vektor penyebab/penular penyakit (tikus, kecoak, nyamuk
Aedes Aegypti/Anopheles) yang terbawa oleh alat angkut penumpang atau barang di
Pelabuhan.
Prosedur Tindakan Disinseksi Berdasarkan Peraturan
Dirjen PP & PL sebagai berikut:
1) Penggunaan
alat pelindung diri sebelum melakukan tindakan disinseksi misalnya, sarung tangan,
masker, sepatu boat, dan lain-lain.
2) Penggunaan
peralatan untuk disinseksi misalnya, hand sprayer, mist blower, dan electric
sprayer.
3) Pelaksanaan
disinseksi dilakukan sebagai berikut:
a. Untuk
bagian-bagian kapal yang tersembunyi seperti lubang-lubang kecil di lantai dan
tempat-tempat sulit menggunakan hand sprayer ataupun mist blower.
b. Untuk
ruang lebar terbulca menggunakan ULV electric sprayer.
c. Mengisi
formulir isian yang memuat data tentang nama bahan pestisida/insektisida yang
digunakan volume berat bahan pestisida yang digunakan, bahan pelami, catatan
(waktu, hari dan tanggal pelaksanaan), nama petugas pelaksana dan supervisor
yang bertanggungjawab.
d. Membuat
laporan pelaksanaan secara tertulis.
4) Pengawasan
disinseksi oleh petugas KKP
a. Melakukan
pengawasan atas seluruh kegiatan disinseksi yang dilakukan oleh BUS (Badan
Usaha Swasta).
b. Memberikan
masukan, saran, maupun teguran kepada BUS agar pelaksanaan kegiatan disinseksi
sesuai standar.
c. Membuat
laporan tertulis
Hambatan & Upaya Pelaksanaan Tindakan
Disinseksi. Adapun kapal yang di disinseksi yaitu kapal barang atau kargo, dan
untuk kapal penumpang hanya diberikan peringatan secara lisan karena berbagai
kendala, salah satunya yaitu, kapal penumpang hanya transit pada suatu daerah
dalam waktu beberapa jam, dan keadaan kapal sangat sulit dikosongkan dari
manusia. Sedangkan untuk pelaksanaan disinseksi diperlukan waktu yang cukup
lama (sesuai ukuran kapal) dan dan kapal harus kosong dari manusia dan barang
yang mudah terkontaminasi oleh racun yang ditimbulkan oleh pestisida
/insektisida yang digunakan untuk disinseksi.
2. Memutus daur hidup
Setiap vektor mempunyai siklus hidup yang
berbeda-beda, mulai dari telur, larva atau nimfe dan dewasa. Semuanya ini
mempunyai karakteristik sendiri yang spesifik dan sangat dipengaruhi keadaan
lingkungan. Oleh karena itu pengetahuan tentang epidemiologi dari vektor
tersebut sangat penting dan diperlukan untuk membuat program penanggulangannya.
Keakuratan data dari sistim di alam yang menyangkut sistim vektor borne disease
dan agen penyakit-vektor-hospes akan mempengaruhi model program penanggulangan
yang akan diajukan.
3. Penggunaan
insektisida
Insektisida digunakan untuk membunuh serangga.
Beberapa jenis insektisida yang sering digunakan mulai dari organochlorine,
organofosfat, carbamate, pyrethrin dan jenisjenis yang lain baik derivatnya
maupun campurannya akan berfungsi untuk membunuh serangga. Metoda pemberian
insektisida adalah dengan sistim pengasapan (fogging), tetapi perlu
diperhatikan juga berapa lama insektisida tersebut masih aktif, karena fogging
kebanyakkan di perumahan. Residual insektida mungkin lebih baik digunakan
karena mempunyai efek jangka panjang. Selain fogging, perlu juga digunakan
repellent untuk mencegah vektor tidak menggigit manusia. Untuk mengurangi
kontak dengan nyamuk, orang sering menggunakan kelambu yang sudah ada
insektisida (impregnated net).
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Pesisir merupakan wilayah yang sangat berarti bagi
kehidupan manusia di bumi. Vektor
adalah parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular penyakit
baik pada manusia maupun hewan. Keberadaan vektor ini sangat penting karena
kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar. Permasalahan wilayah pesisir sangat penting khususnya masalah pencemaran yang
terkait dengan perkembangbiakan vektor. Ini di sebabkan karana pencemaran
lingkungan berhubungan langsung dengan sanitas di tempat tersebut.
3.2. Saran
Untuk itu upaya-upaya dibidang kesehatan lebih ditingkatkan agar hasil pembangunan
kesehatan dapat terus ditingkatkan. Juga diharapkan partisipasi pemerintah
sekarang agar dapat memperhatikan wilayah pesisir mengingat begitu banyak
potensi di wilayah tersebut termasuk sebagai tempat wisata bahari. Karena itu
daerah pesisir pun harus diperhatikan tingkat kesehatan dan kesejahteraan
masyarakatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar