Rabu, 23 November 2016

PENGENDALIAN VEKTOR WILAYAH PESISIR

PENGENDALIAN VEKTOR DI WILAYAH PESISIR DAN PANTAI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pesisir merupakan wilayah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia di bumi. Sebagai wilayah peralihan darat dan laut yang memiliki keunikan ekosistem, dunia memiliki kepedulian terhadap wilayah ini, khususnya di bidang lingkungan dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Kawasan pesisir juga dipahami sebagai kawasan tempat bertemunya berbagai kepentingan, baik  masyarakat, pemerintah kabupaten, dan investor dalam rangka memanfaatkan potensi kawasan pesisir. Kawasan Pesisir adalah kawasan yang sangat kaya akan sumber daya alam dan sangat potensial sebagai modal dasar pembangaunan nasional.
Kawasan pesisir ini memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan, serta memudahkan terjadinya pedagangan antar daerah, pulau dan benua. Selain itu, wilayah pesisir juga merupakan daerah penghambat masuknya gelombang besar air laut ke darat, yaitu dengan keberadaan hutan mangrove.
Vektor adalah parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular penyakit baik pada manusia maupun hewan. Keberadaan vektor ini sangat penting karena kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar.
Dalam rangka melindungi negara dari penularan/penyebaran penyakit oleh serangga (vektor) maupun kuman /bakteri yang terbawa oleh alat angkut, dan barang bawaan yang masuk melalui pintu-pintu masuk negara tersebut, berdasarkan International Health Regulation (IHR) Tahun 2005 yang berlaku, “semua alat angkut harus bebas dari vektor”.

1.2. Rumusan Masalah
 1.2.1. Bagaimana peranan vektor di wilayah pesisir ?
 1.2.2. Apa saja permasalahan  masyarakat di wilayah pesisir ?
 1.2.3. Bagaimana pengendalian vektor di wilayah pantai dan pesisir ?

1.3  Tujuan Penulisan
            1.3.1. Mengetahui bagaimana peranan vektor di wilayah pesisir.
            1.3.2. Mengetahui apa saja permasalahan masyarakat di wilayah pesisir.
            1.3.3. Mengetahui bagaimana pengendalian vektor di wilayah pesisir.

 BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Peranan Vektor
Secara definisi vektor adalah parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular penyakit baik pada manusia maupun hewan. Keberadaan vektor ini sangat penting karena kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar. Ada beberapa jenis vektor dilihat dari cara kerjanya sebagai penular penyakit sebagai berikut:
1.    Vektor potensial
Vektor potensial adalah vektor yang secara aktif berperan dalam penyebaran penyakit. Vektor ini baik secara biologis maupun mekananis selalu mencari hospesnya untuk kelangsungan hidupnya. Selain itu ada vektor pasif, artinya secara ilmiah dapat dibuktikan bahwa dalam tubuh vektor ada agen patogen dan dapat menularkan agen tersebut kepada hospes lain, tetapi vektor ini tidak aktif mencari mangsanya. Dengan adanya perubahan lingkungan, kemungkinan vektor tersebut dapat berubah menjadi aktif.
2.    Vektor biologis
Vektor biologis adalah dimana agen penyakit harus mengalami perkembangan ke stadium lebih lanjut. Bila tidak ada vektor maka agen penyakit kemungkinan akan mati. Contoh yang paling mudah adalah schistosomiasis, penyakit akibat cacing Schistosoma japonicum. Larva (miracidium) masuk ke dalam tubuh siput, berkembang menjadi sporocyst dan selanjutnya menjadi redia, kemudian menjadi cercaria yang akan keluar dari tubuh siput, aktif mencari definif host, melalui kulit dimana akan terjadi dermatitis (SOULSBY, 1982).
3.    Vektor mekanis
Vektor mekanis adalah dimana agen penyakit tidak mengalami perkembangan, tetapi hanya sebagai pembawa agen penyakit. Tidak seperti penyakit malaria atau arbovirus dimana terjadinya infeksi cukup satu kali gigitan vektor yang sudah terinfeksi, pada infeksi filaria, vektor harus sering menggigit hospesnya agar terjadi infeksi. Diperkirakan lebih dari 100 gigitan agar cacing dapat bereproduksi dan menghasilkan mikrofilaria.
4.    Vektor insidentil
Vektor insidentil adalah vektor ini secara kebetulan hinggap pada manusia, kemudian mengeluarkan faeces yang sudah terkontaminasi agen penyakit dekat mulut. Secara tidak sengaja masuk ke dalam mulut, contohnya pada penyakit Chagas yang disebabkan oleh Trypanosoma cruzi dan vektor yang berperan adalah Triatoma bugs. Vektornya sebenarnya masuk dalam siklus silvatik, hanya diantara hewan rodensia. Manusia terkontaminasi bila vektornya masuk dalam lingkungan manusia.

2.2. Permasalahan di Wilayah Pesisir
Ada beberapa masalah yang terjadi dalam pembangunan wilayah pesisir dan lautan di Indonesia antara lain adalah pencemaran, degradasi habitat, over eksploitasi sumber daya alam, abrasi pantai, konversi kawasan lindung menjadi peruntukan pembangunan lainnya, dan bencana alam sebagai berikut:
1.    Pencemaran
Pencemaran laut adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya menurun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya (DKPRI, 2002). Pada beberapa kasus pencemaran yang ada di laut, sebagian terjadi karena bahan kimia yang berbahaya yang berbentuk kecil. Bahan kimia tersebut dimakan oleh plankton dan binatang lainnya. Karena zat tersebut dimakan oleh plankton, dan plankton dimakan oleh binatang lainnya hingga akhirnya dimakan oleh manusia, akan membuat manusia yang memakannya dapat mengalami keracunan. Jika kadar yang ada dalam ikan tinggi, maka potensi keracunan menjadi lebih besar dan serius. Beberapa dampak yang terjadi karena pencemaran lingkungan laut sebagai berikut :
a.       Menyebabkan keracunan pada tubuh makhluk hidup yang berhubungan dengan laut misalnya ikan, burung laut, dan manusia.
b.      Mengancam kehidupan dan kelangsungan hewan dan tumbuhan yang hidup di laut.
Masalah pencemaran ini disebabkan karena aktivitas manusia seperti pembukaan lahan untuk pertanian, pengembangan kota dan industri, penebangan kayu dan penambangan di Daerah Aliran Sungai (DAS). Pembukaan lahan atas sebagai bagian dari kegiatan pertanian telah meningkatkan limbah pertanian baik padat maupun cair yang masuk ke perairan pesisir dan laut melalui aliran sungai. Begitu juga dengan vektor pembawa penyakit, apalagi dengan kondisi sanitasi lingkungan yang masih memprihatinkan. Industri merupakan sumber bahan sedimen dan pencemaran perairan pesisir dan laut. Pesatnya perkembangan pemukiman dan kota telah meningkatkan jumlah sampah baik padat maupun cair yang merupakan sumber pencemaran pesisir dan laut yang sulit dikontrol. Sehingga berdampak pada kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.
2.    Kerusakan Fisik Habitat
Kerusakan fisik habitat wilayah pesisir dan lautan telah mengakibatkan penurunan kualitas ekosistem. Hal ini terjadi pada ekosistem mangrove, terumbu karang, dan rumput laut. Kebanyakan rusaknya habitat di daerah pesisir adalah akibat aktivitas manusia seperti konversi hutan mangrove untuk kepentingan pemukiman, pembangunan infrastruktur, dan perikanan tambak. Indonesia memiliki cadangan hutan mangrove tropis terluas di dunia dengan luas sekitar 3,8 juta ha atau sekitar 30 – 40 % dari jumlah seluruh hutan mangrove dunia Hutan mangrove di Indonesia terpusat di Irian Jaya dan Maluku (71%), Sumatra (16 %), Kalimantan (9 %) dan Sulawesi ( 2,5 %). Namun akibat dari aktivitas manusia, pada tahun 1970 – 1980, luas hutan mangrove Indonesia berkurang sekitar 700.000 ha untuk penggunaan lahan lainnya (Nugroho dkk 2001).
3.    Eksploitasi Sumber Daya Secara Berlebihan
Ada beberapa sumber daya perikanan yang telah dieksploitir secara berlebihan (overfishing), termasuk udang, ikan demersal, palagis kecil, dan ikan karang. Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah dengan penduduk padat, misalnya di Selat Malaka, pantai utara Pulau Jawa, Selat Bali, dan Sulawesi Selatan. Menipisnya stok sumber daya tersebut, selain karena overfishing juga dipicu oleh aktivitas ekonomi yang baik secara langsung atau tidak merusak ekosistem dan lingkungan sehingga perkembangan sumber daya perikanan terganggu.  Disamping itu, kurangnya apresiasi dan pengetahuan manusia untuk melakukan konservasi sumber daya perikanan, seperti udang, mangrove, terumbu karang, dan lain-lain.
4.    Abrasi Pantai
Terdapat 2 faktor yang menyebabkan terjadinya abrasi pantai, yaitu :
1)        Proses alami (karena gerakan gelombang pada pantai terbuka)
2)        Aktivitas manusia.
Kegiatan manusia tersebut misalnya kegiatan penebangan hutan (HPH) atau pertanian di lahan atas yang tidak mengindahkan konsep konservasi telah menyebabkan erosi tanah dan kemudian sedimen tersebut dibawa ke aliran sungai serta diendapkan di kawasan pesisir. Aktivitas manusia lainya adalah menebang atau merusak ekosistem mangrove di garis pantai baik untuk keperluan kayu, bahan baku arang, maupun dalam rangka pembuatan tambak. Hal-hal ini tentu secara ekologis telah menghilangkan fungsi-fungsi ekologis dari hutan mangrove sebagai berikut:
a.    Sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung pantai dari abrasi, penahan lumpur, dan penangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan
b.    Penghasil detritus (bahan makanan bagi udang, kepiting, dan lain-lain) dan mineral-mineral yang dapat menyuburkan perairan
c.     Sebagai daerah nurshery ground, feeding ground dan spawing ground bermacam biota perairan (Bengen, 2001).
5.    Konversi Kawasan Lindung ke Penggunaan Lainnya.
Pergeseran penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan industri, property, perkantoran, dan lain sebagainya yang terkadang kebijakan persegeran tersebut tanpa mempertimbangkan efek ekologi, tetapi hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi jangka pendek. Demikian juga halnya yang terjadi di wilayah pesisir, banyak terjadi pergeseran lahan pesisir dan bahkan kawasan lindung sekalipun menjadi lahan pemukiman, industri, pelabuhan, perikanan tambak, dan pariwisata. Akibatnya terjadi kerusakan ekosistem di sekitar pesisir, terutama ekosistem mangrove. Jika ekosistem mangrove rusak dan bahkan punah, maka hal yang akan terjadi adalah:
a.    regenerasi stok ikan dan udang terancam
b.    terjadi pencemaran laut oleh bahan pencemar yang sebelumnya diikat oleh hutan mangrove
c.    pedangkalan perairan pantai
d.   erosi garis pantai dan intrusi garam.
6.    Bencana Alam
Bencana alam merupakan kejadian alami yang berdampak negatif pada sumber daya pesisir dan lautan diluar kontrol manusia. Beberapa macam bencana alam yang sering terjadi di wilayah pesisir dan merusak lingkungan pesisir antara lain adalah kenaikan muka laut, gelombang pasang tsunami, dan radiasi ultra violet.

2.3. Pengendalian Vektor Di Wilayah Pantai dan Pesisir
Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu  Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Bagi  dunia kesehatan masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vektor yang  dapat merugikan kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara  langsung juga sebagai perantara penularan penyakit. Pengendalian vektor  adalah  semua upaya yang dilakukan untuk menekan,  mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak  membahayakan kehidupan manusia. Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai berikut :
a)    Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan.
b)   Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan hidup.
Berikut ada beberapa jenis pengendalian vektor di wilayah pantai dan pesisir sebagai berikut:
1.    Pencegahan Vektor Masuk Di Daerah Pantai Atau Pesisir Melalui Kapal
Pencegahan vektor masuk di daerah pesisir atau pantai dengan dilaksanakannya program disinseksi yaitu untuk menghindari kapal dari serangga atau vektor penyebab/penular penyakit (tikus, kecoak, nyamuk Aedes Aegypti/Anopheles) yang terbawa oleh alat angkut penumpang atau barang di Pelabuhan.
Prosedur Tindakan Disinseksi Berdasarkan Peraturan Dirjen PP & PL sebagai berikut:
1)   Penggunaan alat pelindung diri sebelum melakukan tindakan disinseksi misalnya, sarung tangan, masker, sepatu boat, dan lain-lain.
2)   Penggunaan peralatan untuk disinseksi misalnya, hand sprayer, mist blower, dan electric sprayer.
3)   Pelaksanaan disinseksi dilakukan sebagai berikut:
a.    Untuk bagian-bagian kapal yang tersembunyi seperti lubang-lubang kecil di lantai dan tempat-tempat sulit menggunakan hand sprayer ataupun mist blower.
b.    Untuk ruang lebar terbulca menggunakan ULV electric sprayer.
c.    Mengisi formulir isian yang memuat data tentang nama bahan pestisida/insektisida yang digunakan volume berat bahan pestisida yang digunakan, bahan pelami, catatan (waktu, hari dan tanggal pelaksanaan), nama petugas pelaksana dan supervisor yang bertanggungjawab.
d.   Membuat laporan pelaksanaan secara tertulis.
4)  Pengawasan disinseksi oleh petugas KKP
a.    Melakukan pengawasan atas seluruh kegiatan disinseksi yang dilakukan oleh BUS (Badan Usaha Swasta).
b.    Memberikan masukan, saran, maupun teguran kepada BUS agar pelaksanaan kegiatan disinseksi sesuai standar.
c.     Membuat laporan tertulis
Hambatan & Upaya Pelaksanaan Tindakan Disinseksi. Adapun kapal yang di disinseksi yaitu kapal barang atau kargo, dan untuk kapal penumpang hanya diberikan peringatan secara lisan karena berbagai kendala, salah satunya yaitu, kapal penumpang hanya transit pada suatu daerah dalam waktu beberapa jam, dan keadaan kapal sangat sulit dikosongkan dari manusia. Sedangkan untuk pelaksanaan disinseksi diperlukan waktu yang cukup lama (sesuai ukuran kapal) dan dan kapal harus kosong dari manusia dan barang yang mudah terkontaminasi oleh racun yang ditimbulkan oleh pestisida /insektisida yang digunakan untuk disinseksi.
2. Memutus daur hidup
Setiap vektor mempunyai siklus hidup yang berbeda-beda, mulai dari telur, larva atau nimfe dan dewasa. Semuanya ini mempunyai karakteristik sendiri yang spesifik dan sangat dipengaruhi keadaan lingkungan. Oleh karena itu pengetahuan tentang epidemiologi dari vektor tersebut sangat penting dan diperlukan untuk membuat program penanggulangannya. Keakuratan data dari sistim di alam yang menyangkut sistim vektor borne disease dan agen penyakit-vektor-hospes akan mempengaruhi model program penanggulangan yang akan diajukan.
3. Penggunaan insektisida
Insektisida digunakan untuk membunuh serangga. Beberapa jenis insektisida yang sering digunakan mulai dari organochlorine, organofosfat, carbamate, pyrethrin dan jenisjenis yang lain baik derivatnya maupun campurannya akan berfungsi untuk membunuh serangga. Metoda pemberian insektisida adalah dengan sistim pengasapan (fogging), tetapi perlu diperhatikan juga berapa lama insektisida tersebut masih aktif, karena fogging kebanyakkan di perumahan. Residual insektida mungkin lebih baik digunakan karena mempunyai efek jangka panjang. Selain fogging, perlu juga digunakan repellent untuk mencegah vektor tidak menggigit manusia. Untuk mengurangi kontak dengan nyamuk, orang sering menggunakan kelambu yang sudah ada insektisida (impregnated net).

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pesisir merupakan wilayah yang sangat berarti bagi kehidupan manusia di bumi. Vektor adalah parasit arthropoda dan siput air yang berfungsi sebagai penular penyakit baik pada manusia maupun hewan. Keberadaan vektor ini sangat penting karena kalau tidak ada vektor maka penyakit tersebut juga tidak akan menyebar. Permasalahan wilayah pesisir sangat penting khususnya masalah pencemaran yang terkait dengan perkembangbiakan vektor. Ini di sebabkan karana pencemaran lingkungan berhubungan langsung dengan sanitas di tempat tersebut.

3.2. Saran

Untuk itu upaya-upaya dibidang kesehatan  lebih ditingkatkan agar hasil pembangunan kesehatan dapat terus ditingkatkan. Juga diharapkan partisipasi pemerintah sekarang agar dapat memperhatikan wilayah pesisir mengingat begitu banyak potensi di wilayah tersebut termasuk sebagai tempat wisata bahari. Karena itu daerah pesisir pun harus diperhatikan tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar