Rabu, 23 November 2016

NYAMUK CULEX SP.

NYAMUK CULEX SP. Penular penyakit pada manusia.
            Kehadiran nyamuk sering dirasakan mengganggu kehidupan manusia dari gigitannya yang menyebabkan gatal hingga perannya sebagai vektor (penular) penyakit-penyakit berbahaya bagi manusia misalnya penyakit Filariasis (kaki gajah) . penyakit Filariasis (kaki gajah) disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan oleh nyamuk Culex Fatigan. Saat ini penyakit filariasis termasuk penyakit yang cukup meresahkan masyarakat karena dapat menimbulkan kecacatan menetap pada penderitanya.
            Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Culex Sp ini banyak ditemukan diwilayah tropika seluruh dunia. Termasuk negara Indonesia menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan 233 kabupaten termasuk  masih daerah endemis (daerah rawan penyakit) dan prevalensi (kejadian kasus penyakit) filariasis di Indonesia masih tinggi  di wilayah timur Indonesia, yakni sebesar 20 persen.
           
            Nyamuk genus Culex merupakan nyamuk yang banyak terdapat di sekitar kita. Beberapa spesies nyamuk ini sudah dibuktikan sebagai vektor penyakit. Di Indonesia, ada 23 spesies nyamuk sebagai vektor penyakit Filariasis, dari genus anopheles, aedes, culex, armigeres dan mansonia diantaranya adalah culex quinquefasciatus dan culex bitaeniorrhynchus. Biasanya, nyamuk genus  culex ini menyukai tempat-tempat kotor, seperti limbah domestik.
            Beberapa spesies nyamuk Culex Sp. merupakan vektor penyakit antara lain :
1.      Culex fatigan menjadi vektor penyakit Filariasis pada manusia.
2.      Culex pipiens menjadi vektor penyakit St. Louis Enchepalitis.
3.      Culex tarsalis menjadi vektor penting penyakit Western Encephalitis.
4.      Culex tritaenior hynchus vektor utama penyakit Jepanese Encephalitis.
Filariasis (kaki gajah) adalah penyakit menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria pada kelenjar/saluran getah bening. Penyakit ini bisa menular dan menimbulkan gejala klinik akut berupa demam berulang-ulang, oedema, peradangan kelenjar/saluran getah bening dan gejala klinik kronis berupa elephantiasis.
Penularan penyakit filariasis sangat dipengaruhi oleh bagaimana kondisi kekebalan tubuh, berapa kali nyamuk menggigit dan berapa lama nyamuk yang mengandung cacing filaria hidup. Jika kondisi kekebalan tubuh tinggi, maka sangat membantu dalam membunuh cacing filaria di dalam tubuh. Untuk terkena penyakit filariasis paling tidak mengalami gigitan nyamuk sebanyak 1000 gigitan. Selain itu, waktu yang dibutuhkan cacing filaria untuk berkembang  didalam tubuh nyamuk adalah selama 10 hari. Dengan demikian, jika nyamuk tidak bisa hidup selama itu maka cacing filaria akan mati juga.

Apabila manusia digigit nyamuk yang mengandung mikrofilaria, maka mikrofilaria yang sudah bebrbentuk larva infektif (larva stadium III) secara aktif akan ikut masuk kedalam tubuh manusia (hospes). Di aliran darah tubuh manusia, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk kedalam pembuluh limfe. Larva mengalami dua kali pergantian kulit di dalam tubuh limfe dan tumbuh menjadi cacing dewasa yang sering disebut larva stadium  IV dan larva stadium V. Kemudian cacing filaria yang sudah dewasa tersebut berada di pembuluh limfe, sehingga akan menyumbat pembuluh limfe dan akan terjadi pembengkakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar